Teknologi Digital dan Manusia Digital

Sebuah ilmu berharga yang dapat ketika membaca sebuah buku yang berjudul “Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ POWER Sebuah Inner Journey Melalui Al-Ihsan” karya Ary Ginanjar Agustian, agar ilmu yang berharga ini tidak lepas saya berusaha untuk mengikatnya dengan menuliskannya kembali dan kemudian akan mencoba mengamalkannya, semoga diberi kekuatan dan kemampuan oleh Allah SWT.

Iptek Digital dan Imtak Digital Era digital telah menciptakan dan melahirkan kemajuan yang sangat luar biasa di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Dimulai dengan hadirnya alat hitung, era komputer dan kemudian berkembang ke segala lini hingga merambah ke dunia penerbangan dan luar angkasa. Perubahan yang luar biasa drastis terjadi di hampir semua sektor. Terjadi Quantum Leap atau lompatan waktu yang sangat luar biasa dan mengagumkan, khususnya dibidang teknologi .

Era digital dimulai semenjak ditemukan bilangan biner, yaitu angka nol dan satu. Bilangan biner tidak mengenal angka lain kecuali angka nol dan satu saja. Bilangan biner ini telah mengubah suatu zaman.

Begitu pula yang terjadi dengan manusia, bilangan biner akan melahirkan pula peradaban manusia yang sangat tinggi, yaitu manusia digital. Manusia digital adalah manusia yang hanya mengenal angka nol dan satu dalam berprinsip hidup.

Angka nol adalah lambang kesucian hati dan pikiran, sedangkan angka satu adalah lambang Tuhan, atau hanya berprinsip kepada Dia Yang Maha Esa. Atau dengan kata lain : Laa (0) ilaha illallah (1). Inilah yang dinamakan era digital manusia, yaitu suatu era dimana manusia menjadi tulus dan ikhlas (0) karena berprinsip kepada Allah SWT (1) dan tidak menuhankan yang lainnya (0). Sehingga seluruh potensi (~) muncul!.

Spiritual berasal dari kata spirit, yang artinya murni. Apabila menggunakan bilangan biner – setelah melalui proses penyaringan hati (melalui bilangan nol) – maka manusia akan menemukan kemurnian spiritualitas. Artinya, apabila manusia berjiwa jernih (0), maka ia akan menemukan potensi mulia dirinya, sekaligus menemukan siapa Tuhannya (1), atau prinsip yang sesungguhnya.

“Apabila engakau mengenal siapa dirimu, maka engakau akan mengenal siapa Tuhanmu.”
Al-Hadist

Mengenai siapa Tuhan sebenarnya, berarti mengetahui apa tujuan tujuan hidup tertinggi. Ia mengenal sifat tuhannya. Ia mengenal keinginan Tuhannya, dan ia mampu membaca rambu-rambu atau rules yang tertulis pada alam semesta melalui pengenalan terhadap jati dirinya sebagai wakil Tuhan. Ia mampu menempatkan diri ditengah masyarakat, bahkan mampu membawa lingkungannya ke arah peradaban yang sesuai dengan hati nurani terdalam. Inilah yang dinamakan High Tech High Touch, yang diimpikan oleh John Naisbitt.

Pada saat manusia menempatkan dirinya pada posisi zero paradigm, maka jati diri yang penuh potensi dan yang selama ini tertutupi oleh berbagai belenggu itu akan muncul, sehingga memungkinkan bagi Cahaya Ilahi untuk memancarkan sinarnya kembali. Cahaya Ilahi itu berupa sinar keadilan, kebersamaan, kedamaian dan kasih sayang, yang didamba oleh seluruh insan manusia.

Tetapi apa yang terjadi saat ini, masyarakat mempergunakan teknologi digital hanya pada bidang teknologi atau iptek saja. Sedangkan mental manusia pengguna teknologinya terbelakang, atau bisa dikatakan masih analog! Sehingga terjadi kepincangan. Mereka telah menggunakan laptop, telepon genggam, e-mail yang merupakan hasil teknologi digital dan diciptakan dari konsep bilangan biner nol dan satu, namun banyak dari mereka yang justru stress atau gangguan kejiwaan, serta tindak kejahatan di mana-mana. Mengapa? Karena yang digital itu baru perlengkapan (piranti)-nya, dan belum mencakup mentalnya. Mental yang dimiliki orang-orangnya masih tertinggal di belakang, kalah dengan kecepatan sistem digital itu sendiri.

Mengapa dikatakan tertinggal atau terbelakang? Karena orang-orangnya justru menjadi “budak” dari perlengkapan /piranti digital tadi, sehingga tanpa disadari, yang seharusnya manusia menjadi subjek malah terbalik menjadi objek teknologi, objek materialisme, objek hedonisme dan objek dari keduniawian. Inilah yang kemudian disebut spiritual analaog, yaitu bilangan 1, 2, 3, dan seterusnya. Mereka kehilangan jati diri, karena membiarkan dirinya menjadi korban atau budak kemilaunya dunia, hamba dari teknologi digital.

Jati diri manusia bersumber dari Tuhan. Tuhan dilambangkan dengan ke-Esa-an-Nya, tunggal atau satu. Begitu pula jati diri manusia, ia harus bersih (0), agar jati diri yang sesungguhnya menjadi muncul (1). Inilah manusia maju, manusia digital, Laa (0) ilaha illallah (1). Maka pada saat itu akan lahir era peradaban manusia tertinggi di muka bumi. Manusia digital dan teknologi digital. Mengapa demikian? Karena potensi dahsyat alam bawah sadar spiritualitas hanya bisa ditransformasikan melalui transformasi digital 0 dan 1, tidak bisa melalui bilangan yang lain (analog).

Konsep digital, tidak hanya bisa ditemukan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi hikmah ini justru bisa diperoleh di ritual Haji. Sebelum para haji melaksanakan thawaf, maka mereka harus men-zero-kan dirinya (0) di saat wukuf di Arafah. Semua berbaju putih melepas semua atribut serta belenggu, mensucikan diri dan hati. Ini semua adalah upaya untuk menzerokan atau mensucikan hati, hingga mencapai titik nol (0). Setelah wukuf di Arafah, maka berdiamlah di Muzdalifah pada malam hari, anda akan mengenal diri Anda di sana, sekaligus Sang Pencipta, dan ini dapat anda rasakan ketika Anda merasa nol.

Kemudian untuk lebih meyakinkan lagi bahwa kita sungguh-sungguh sudah zero, maka lontarlah semua berhala-berhala yang bersemayam di hati, lakukan lontar jumrah, agar penghambaan terhadap materialisme atau apapun selain Allah dimusnahkan.

Setelah semua kotoran disaring di Arafah, Muzdalifah dan lontar jumrah, maka Anda akan berada pada posisi nol atau zero (0), bebas dari presepsi, bebas dari berhala, bebas dari prinsip duniawi yang membelenggu, maka lahirlah kesucian. Semua hijab telah terbuka dan kini muncul sesuatu yang hakiki, fitrah diri. Melalui kacamata yang fitrah dan jernih, maka barulah kita akan melihat Allah SWT (1), dilambangkan dengan thawaf mengelilingi Ka’bah yang tunggal. Laa ilaha illallah, yaitu bilangan nol (0) di Arafah dan satu (1) di Ka’bah.

Namun kita tidak berhenti hanya sampai di sini, segeralah bersa’i, bekerjalah dengan teguh seperti Siti Hajar yang pantang menyerah, ikhlas seperti Nabi Ismail AS. Dengan berbekal cinta yang begitu tulus kepada Allah (1).

Inilah puncak peradaban yang kelak akan terhampar di bumi. Ketika Iptek berbasis digital sertadidukung oleh Imtak digital, yaitu lahirnya manusia yang berprinsip nol dan satu yaitu Tiada Tuhan (0) selain Allah (1). Kemudian yang terjadi adalah ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, dengan kondisi masyarakatnya yang penuh dengan kedamaian, keadilan dan cinta kasih sesama umat manusia di seluruh muka bumi. Kedamaian, keadilan serta cinta tertinggi dari Asmaul Husna, sifat-sifat terindah milik Allah Azza wa Jalla.

Agus Sutrisno

2 Tanggapan

  1. semoga bisa terus eksis…

  2. izin copy ya aku juga punya buku nya luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: